Kecerdasan buatan atau AI mulai memasuki ruang kerja dengan cara yang semakin menarik. Jika sebelumnya AI banyak digunakan sebagai alat untuk mencari informasi atau membuat tulisan kini teknologi tersebut mulai diarahkan untuk meniru cara kerja manusia. Salah satu eksperimen yang dilakukan WIRED memperlihatkan bagaimana AI clone dapat dibuat berdasarkan karakter komunikasi dan kebiasaan seseorang di tempat kerja.
Eksperimen tersebut dilakukan dengan membuat dua bot AI yang dirancang untuk meniru dua rekan kerja. Bot pertama diberi nama Brian Bot sedangkan bot kedua disebut Sophie Bot. Keduanya dibuat menggunakan teknologi Gemini milik Google. Tujuan eksperimen bukan untuk menggantikan rekan kerja melainkan untuk melihat apakah AI dapat membantu memahami gaya komunikasi dan cara berpikir seseorang.
Ide tersebut muncul dari perkembangan konsep AI coworker atau rekan kerja berbasis AI. Teknologi ini dirancang untuk melakukan berbagai tugas yang biasanya membutuhkan bantuan manusia. AI dapat membantu mencari ide menyusun pesan memberikan masukan terhadap tulisan atau membantu mengambil langkah awal dalam sebuah pekerjaan.
Dalam eksperimen tersebut Brian Bot dibuat menggunakan berbagai informasi publik mengenai Brian Barrett. Data tersebut berasal dari podcast dan jejak digital yang tersedia secara terbuka. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk membentuk gambaran mengenai gaya komunikasi dan karakter Brian.
Hasilnya cukup menarik. Brian Bot dapat membantu dalam beberapa pekerjaan seperti memberikan pilihan judul. Namun respons yang diberikan terkadang terasa kaku dan masih menunjukkan ciri khas jawaban AI.
Salah satu hal yang paling menonjol adalah bagaimana bot tersebut menangkap latar belakang Brian dalam dunia improvisational theater atau improv. Bot kemudian banyak menggunakan konsep yang berkaitan dengan improv termasuk pendekatan Yes and. Hal ini menunjukkan bahwa AI dapat menemukan pola tertentu dari informasi yang diberikan kepadanya lalu menggunakannya untuk membentuk gaya respons.
Eksperimen kedua dilakukan terhadap Sophie Bot. Kali ini data yang digunakan lebih banyak. Pembuat bot memasukkan sekitar satu bulan percakapan Slack yang tidak mengandung informasi sensitif. Gemini kemudian menggunakan lebih dari 17.000 kata untuk membentuk profil dan instruksi bagi AI tersebut.
Hasil Sophie Bot ternyata cukup mengejutkan. Bot tersebut mampu meniru gaya bahasa Sophie dengan cukup baik. Bahkan beberapa orang yang berinteraksi dengannya sempat menganggap bahwa pesan tersebut benar-benar ditulis oleh Sophie.
Kemampuan seperti ini menunjukkan perkembangan teknologi AI dalam memahami pola komunikasi manusia. AI tidak hanya mempelajari kata-kata tetapi juga dapat menemukan kebiasaan dalam cara seseorang menyampaikan pendapat. Pilihan kata gaya kalimat dan pola respons dapat menjadi bagian dari profil yang digunakan AI untuk menghasilkan jawaban baru.
Namun kemiripan tersebut bukan berarti AI benar-benar memahami seseorang. Dalam beberapa kesempatan Sophie Bot melakukan kesalahan dan menghasilkan informasi yang tidak benar. Salah satu contohnya adalah ketika bot mengarang keberadaan seorang eksekutif yang sebenarnya tidak ada.
Kesalahan tersebut menjadi pengingat bahwa AI tetap dapat menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan meskipun informasi tersebut tidak benar. Karena itu hasil dari AI clone tetap perlu diperiksa manusia terutama ketika digunakan dalam pekerjaan yang membutuhkan ketepatan.
Menariknya semakin banyak data tidak selalu membuat AI menjadi semakin akurat. Ketika arsip X milik Sophie juga dimasukkan ke dalam sistem hasilnya justru tidak selalu menjadi lebih baik. Bot mulai melakukan kesalahan dalam beberapa tugas dan terkadang mengulang pola jawaban yang sama.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jumlah data bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas AI. Cara data dipilih dan bagaimana informasi tersebut digunakan juga sangat penting. Data yang terlalu banyak dapat membuat model menangkap pola yang tidak relevan atau menghasilkan gambaran yang kurang tepat mengenai seseorang.
Eksperimen tersebut juga menunjukkan bahwa AI clone memiliki kegunaan praktis. Bot dapat digunakan untuk membantu mencari ide wawancara atau memberikan masukan sebelum sebuah pesan dikirim kepada editor manusia. Dalam situasi tertentu AI clone dapat berfungsi sebagai semacam asisten tambahan.
Namun terdapat batasan penting. AI dapat meniru gaya seseorang tetapi belum tentu memiliki penilaian yang sama dengan orang tersebut. Kemampuan meniru bahasa tidak sama dengan memahami pengalaman pribadi konteks hubungan kerja atau pertimbangan yang biasanya digunakan seseorang ketika mengambil keputusan.
Persoalan lain yang muncul adalah privasi. Dalam membuat AI clone seseorang harus menentukan data apa yang boleh diberikan kepada sistem. Informasi komunikasi pribadi atau percakapan internal dapat mengandung data yang tidak seharusnya diproses oleh AI.
Karena alasan tersebut sebagian data pribadi sengaja tidak dimasukkan dalam eksperimen. Kekhawatiran mengenai kebijakan perusahaan dan penggunaan data menjadi salah satu pertimbangan utama.
Perkembangan AI coworker juga membawa pertanyaan mengenai hubungan manusia dengan teknologi. Ketika sebuah bot dapat berbicara dengan gaya yang sangat mirip dengan seseorang manusia dapat mulai memperlakukannya seolah-olah memiliki kepribadian yang sama.
Fenomena tersebut dikenal sebagai antropomorfisme. Manusia cenderung memberikan sifat manusia kepada teknologi ketika teknologi tersebut mampu berkomunikasi dengan cara yang terasa alami.
Sarah Franklin dari Lattice menjadi salah satu pihak yang menyoroti persoalan tersebut. Menurut pandangan yang dikutip dalam eksperimen WIRED kemampuan membuat AI terasa seperti manusia dapat memengaruhi respons emosional pengguna terhadap teknologi.
Hal ini menjadi semakin relevan ketika perusahaan mulai memperkenalkan konsep AI employee atau AI coworker. AI tidak lagi hanya diposisikan sebagai perangkat lunak pasif tetapi mulai dianggap sebagai bagian dari tim kerja.
Sejumlah perusahaan teknologi juga mulai mengembangkan agen AI untuk berbagai pekerjaan. Teknologi tersebut dapat digunakan dalam sektor seperti perbankan hukum dan sumber daya manusia. AI diharapkan dapat mengambil sebagian tugas rutin sehingga manusia dapat berkonsentrasi pada pekerjaan lain.
Namun kehadiran AI dalam pekerjaan juga membutuhkan sistem pengawasan yang jelas. Manusia perlu mengetahui kapan AI digunakan dan bagaimana hasilnya diperoleh. Keputusan penting tidak seharusnya hanya bergantung pada respons AI tanpa pemeriksaan yang sesuai.
Sebuah penelitian dari Boston Consulting Group yang dikutip WIRED juga menunjukkan adanya perbedaan ketika manusia menilai pekerjaan yang dilakukan AI. Dalam penelitian tersebut manajer mendeteksi lebih sedikit kesalahan ketika pekerjaan disebut berasal dari AI employee dibandingkan ketika AI hanya disebut sebagai alat.
Temuan tersebut menarik karena menunjukkan bahwa cara manusia memandang AI dapat memengaruhi tingkat kepercayaan terhadap hasil pekerjaan. Jika AI dianggap sebagai bagian dari tim maka pengguna mungkin memiliki persepsi berbeda dibandingkan ketika teknologi tersebut dipandang hanya sebagai alat.
Karena itu perusahaan perlu mempertimbangkan bukan hanya kemampuan teknis AI tetapi juga bagaimana manusia berinteraksi dengan teknologi tersebut.
Eksperimen membuat AI clone dari rekan kerja memberikan gambaran sederhana mengenai arah perkembangan tersebut. AI dapat mempelajari pola komunikasi dan menghasilkan respons yang terasa mirip dengan manusia. Teknologi ini berpotensi membantu pekerjaan tetapi juga memiliki keterbatasan dalam memahami konteks dan membuat penilaian.
Masa depan dunia kerja kemungkinan akan semakin mempertemukan manusia dengan AI. Kehadiran AI coworker tidak selalu berarti manusia harus digantikan. Dalam banyak situasi AI justru dapat digunakan sebagai pendamping untuk melakukan pekerjaan tertentu.
Manusia tetap memiliki peran penting dalam memeriksa informasi menentukan konteks dan mengambil keputusan. Kemampuan AI untuk menghasilkan jawaban cepat perlu diimbangi dengan penilaian dan tanggung jawab manusia.
Eksperimen WIRED tersebut pada akhirnya menunjukkan bahwa membuat AI yang terasa seperti rekan kerja bukan lagi sekadar konsep fiksi. Teknologi tersebut sudah dapat dibuat dengan memanfaatkan data komunikasi dan informasi digital yang tersedia.
Namun semakin mirip AI dengan manusia semakin besar pula kebutuhan untuk memahami batasnya. AI clone dapat meniru gaya seseorang tetapi bukan berarti ia menjadi orang tersebut. Ia dapat membantu pekerjaan tetapi tetap dapat melakukan kesalahan. Ia dapat terdengar meyakinkan tetapi belum tentu memahami konteks sebenarnya.
Perkembangan ini menjadi bagian dari perubahan besar dalam cara manusia bekerja dengan teknologi. AI coworker kemungkinan akan terus berkembang dan semakin banyak digunakan untuk membantu berbagai aktivitas profesional.
Tantangan berikutnya bukan hanya bagaimana membuat AI semakin pintar tetapi juga bagaimana memastikan penggunaannya tetap aman transparan dan bertanggung jawab. Dengan pendekatan tersebut AI dapat menjadi bagian dari lingkungan kerja tanpa membuat manusia kehilangan peran dalam mengawasi dan menentukan keputusan penting.
