Kehadiran kecerdasan buatan atau AI mengubah cara masyarakat mencari dan menggunakan informasi. Jika dahulu seseorang harus membuka buku atau mencari sumber dari satu situs ke situs lainnya kini jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik. Teknologi AI mampu membantu pengguna mencari informasi merangkum dokumen menerjemahkan teks hingga mendukung kegiatan penelitian. Kemudahan tersebut membuat aktivitas mencari pengetahuan menjadi lebih cepat dan praktis.

Namun perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru. Jawaban yang muncul dari AI tidak selalu benar. Informasi yang diberikan dapat mengandung kesalahan bias atau tidak memiliki sumber yang jelas. Karena itu masyarakat tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi. Kemampuan untuk memeriksa informasi dan memahami sumber menjadi semakin penting.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia atau KPDI ke-17 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 4 Agustus 2026. Konferensi tersebut mengangkat tema mengenai kesadaran perilaku interaksi dan budaya informasi di era kecerdasan buatan. Forum ini membahas perubahan cara masyarakat mencari menggunakan dan berinteraksi dengan informasi di tengah perkembangan AI.

Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Aminudin Aziz mengatakan perkembangan AI telah mengubah tantangan yang dihadapi perpustakaan. Pada masa sebelumnya perpustakaan lebih banyak berfokus pada penyediaan akses informasi. Kini tantangannya berkembang menjadi bagaimana memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan tidak kehilangan peran di tengah kemajuan teknologi. Justru keberadaan perpustakaan dapat menjadi semakin penting. Ketika mesin mampu menghasilkan jawaban dengan cepat masyarakat membutuhkan tempat dan sumber yang dapat membantu mereka memahami apakah informasi tersebut dapat dipercaya.

Perpustakaan memiliki koleksi yang dapat digunakan sebagai sumber rujukan. Selain menyediakan bahan bacaan perpustakaan juga dapat membantu masyarakat memahami kualitas informasi. Pustakawan memiliki peran dalam membangun kemampuan literasi informasi digital dan data.

Kemampuan tersebut sangat diperlukan karena jumlah informasi di internet terus bertambah. Tidak semua informasi yang muncul di layar memiliki kualitas yang sama. Ada sumber yang dibuat berdasarkan penelitian dan data. Ada pula informasi yang tidak memiliki dasar yang kuat.

AI memang memberikan banyak manfaat. Teknologi tersebut dapat membantu seseorang menemukan informasi dengan lebih cepat. Dokumen yang panjang dapat dirangkum sehingga pengguna lebih mudah memahami isi awalnya. AI juga dapat membantu penerjemahan dan mendukung kegiatan penelitian.

Meski begitu AI sebaiknya tidak dipandang sebagai sumber kebenaran yang selalu tepat. Pengguna tetap perlu melakukan pemeriksaan terhadap informasi yang diperoleh. Sumber asli perlu diperhatikan terutama ketika informasi tersebut digunakan untuk keperluan pendidikan penelitian atau pekerjaan.

Di sinilah perpustakaan memiliki posisi yang penting. Perpustakaan dapat menjadi tempat untuk menemukan sumber yang lebih terarah. Koleksi buku jurnal dokumen dan sumber digital dapat membantu pengguna melakukan pemeriksaan terhadap informasi yang diperoleh dari berbagai platform.

Peran perpustakaan juga semakin luas karena masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi. Mereka membutuhkan kemampuan untuk memahami informasi tersebut. Literasi informasi membuat seseorang mampu mengenali sumber membandingkan informasi dan mempertimbangkan kualitas data sebelum mempercayainya.

Di era AI kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat perlu membiasakan diri untuk tidak langsung menerima setiap jawaban yang muncul dari teknologi. Informasi perlu dibaca dengan teliti dan diperiksa melalui sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selain persoalan akurasi terdapat aspek lain yang tidak kalah penting yaitu etika. Penggunaan AI perlu memperhatikan keamanan data pribadi perlindungan hak cipta serta integritas dalam menggunakan informasi. Kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat masyarakat mengabaikan aturan dan tanggung jawab.

Aminudin menekankan bahwa pusat perubahan dan transformasi bukanlah teknologi melainkan manusia. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa AI pada dasarnya merupakan alat. Manusia tetap memiliki tanggung jawab dalam menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Perpustakaan memiliki tanggung jawab untuk membantu masyarakat menghadapi perubahan tersebut. Tidak hanya menyediakan koleksi tetapi juga membangun kesadaran mengenai kualitas informasi keamanan data dan etika pemanfaatan AI.

Perubahan peran ini membuat perpustakaan perlu terus beradaptasi. Perpustakaan digital menjadi salah satu bentuk perkembangan yang memungkinkan masyarakat memperoleh layanan informasi melalui teknologi. Sistem digital juga dapat membuat pengelolaan koleksi dan layanan menjadi lebih mudah.

Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke-17 menjadi salah satu ruang untuk membahas perubahan tersebut. Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia Joko Santoso mengatakan konferensi tersebut tidak hanya menghadirkan seminar dan presentasi makalah ilmiah. Kegiatan juga diperluas dengan berbagai aktivitas yang lebih aplikatif.

Salah satu kegiatan yang diperkenalkan adalah software clinic. Layanan tersebut memberikan ruang konsultasi mengenai berbagai kebutuhan teknologi perpustakaan. Topiknya mencakup repositori institusi otomasi perpustakaan integrasi sistem pengelolaan data digital hingga pengembangan layanan berbasis teknologi.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan juga membutuhkan kemampuan teknologi yang terus berkembang. Pengelola perpustakaan perlu memahami sistem digital agar layanan yang diberikan dapat mengikuti kebutuhan masyarakat.

Kolaborasi menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan tersebut. Pustakawan tidak dapat bekerja sendiri. Akademisi peneliti dan praktisi teknologi juga memiliki peran dalam membangun ekosistem perpustakaan digital.

Kerja sama tersebut dapat menghasilkan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna. Pustakawan dapat memberikan pemahaman mengenai pengelolaan informasi. Akademisi dan peneliti dapat memberikan perspektif ilmiah. Sementara praktisi teknologi dapat membantu mengembangkan sistem digital yang mendukung layanan perpustakaan.

Pada akhirnya perkembangan AI tidak berarti perpustakaan akan ditinggalkan. Justru semakin banyak informasi yang tersedia membuat kebutuhan terhadap sumber yang kredibel semakin besar. Masyarakat membutuhkan tempat untuk belajar membaca memahami dan mengevaluasi informasi.

AI dapat menjadi alat yang membantu manusia bekerja lebih cepat. Namun teknologi tersebut tetap membutuhkan pengguna yang mampu berpikir kritis. Jawaban yang cepat tidak selalu berarti jawaban yang benar. Informasi yang mudah ditemukan juga belum tentu memiliki sumber yang dapat dipercaya.

Karena itu perpustakaan memiliki peluang untuk menjadi salah satu pusat literasi di era AI. Perpustakaan dapat membantu masyarakat membangun kebiasaan memeriksa sumber dan memahami informasi secara lebih mendalam.

Bagi pelajar dan mahasiswa peran tersebut juga sangat penting. Tugas pendidikan membutuhkan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. AI dapat membantu mencari ide atau memahami materi awal tetapi sumber rujukan tetap perlu diperiksa.

Masa depan perpustakaan bukan hanya tentang rak buku. Perpustakaan dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran digital yang menghubungkan manusia dengan berbagai sumber pengetahuan. Teknologi dapat digunakan untuk memperluas akses sementara kemampuan manusia tetap menjadi dasar dalam menilai informasi.

Era AI akhirnya bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang mendapatkan jawaban. Tantangan yang lebih penting adalah seberapa baik seseorang memahami jawaban tersebut. Kemampuan membedakan informasi yang akurat dari informasi yang keliru akan semakin dibutuhkan.

Dengan perubahan tersebut perpustakaan memiliki kesempatan untuk memperkuat posisinya sebagai rujukan informasi yang kredibel. Teknologi dan perpustakaan tidak harus saling menggantikan. Keduanya dapat berjalan bersama dengan manusia sebagai pusatnya.

Masyarakat dapat memanfaatkan AI untuk memperoleh kemudahan sekaligus menggunakan perpustakaan untuk memastikan informasi yang diterima memiliki dasar yang kuat. Perpaduan antara teknologi literasi dan kemampuan berpikir kritis dapat membantu menciptakan budaya informasi yang lebih sehat di tengah perkembangan AI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *